"Selama delapan tahun itu akan terjadi keseragaman karena posisi bulannya (penentu Ramadan dan Syawal) sudah cukup tinggi," kata Ketua Lapan, Thomas Djamaluddin, kemarin.
Masa keseragaman delapan tahun itu, kata dia, belum bisa dipastikan sebagai periodesasi karena masih perlu diperhitungkan kembali kesamaan masa berikutnya di masa depan.
Adapun tahun ini, Djamaluddin mengatakan awal puasa versi pemerintah dimulai 29 Juni besok dengan alasan posisi bulan di seluruh Indonesia saat Magrib kemarin masih di bawah ufuk. "Kecuali di selatan Sumatera dan Jawa, namun ketinggiannya rendah, masih kurang dari dua derajat," katanya, seperti dilansir tempo.co.
Dengan kondisi hilal atau bulan sabit baru penanda bulan Islam yang baru sudah di atas ufuk seperti itu, kata Djamaluddin, Ormas Muhammadiyah akan mengawali puasa pada Sabtu ini. Sedangkan Ormas Islam lain dan pemerintah menetapkan awal Ramadan keesokan harinya. "Perbedaan ini bukan antara hisab dan rukyat. Hisab sama, tetapi beda kriterianya saja," jelasnya.
Muhammadiyah, kata Djamaluddin, cukup dengan wujudul hilal, atau melihat piringan atas bulan yang muncul saat matahari terbenam. Sedangkan ormas lain seperti Nahdlatul Ulama mensyaratkan kemunculan bulan baru dengan ketinggian tertentu dua derajat.
Walau berbeda awal puasa, kata Djamaluddin, Idul Fitri tahun ini akan dirayakan serentak. Namun, perbedaan awal puasa ini juga nantinya akan merembet saat penetapan Idul Adha atau kurban pada 2014 dan 2015. Setelah itu, berdasarkan perhitungan astronomi, akan muncul keseragaman awal puasa, Idul Fitri dan Idul Adha bagi umat Muslim di Tanah Air.
Sumber : Tempo.co
- See more at: http://www.halloriau.com/read-hallo-indonesia-48926-2014-06-28-mulai-2015-awal-puasa-selalu-sama.html#sthash.R8y4Hjqr.dpuf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar